Kami nggak ketemu selama hampir tujuh tahun, jadi pas jemput dia di bandara, aku agak kaget. Yola yang dulu pemalu dan pendiam banget udah berubah jadi cewek yang super stylish dan menawan. Rambutnya panjang hitam mengkilap, kulitnya putih mulus, dan gayanya modis banget—bener-bener beda dari kenanganku waktu kecil!
Dia nyampe di Jakarta sekitar jam tujuh malam. Dari bandara, aku langsung ajak dia makan malam di kafe favoritku. Awalnya aku kira bakal awkward, soalnya dulu kami nggak terlalu dekat. Tapi ternyata, obrolan kami mengalir banget! Kami sama-sama cewek yang suka ngobrolin apa aja, dari fashion sampai kehidupan kampus. Rasanya kayak ketemu temen lama.
Malam itu, kami lanjut ngobrol sambil rebahan di kasur. Dari topik fashion, kuliah, sampe urusan cinta dan yang lebih… personal. Obrolan kami seru banget, sampe lupa waktu. Apalagi pas aku ceritain pengalaman liar soal kehidupan cintaku, Yola kaget sekaligus antusias banget. Dia kayaknya juga ikut kebawa suasana, dan kami cuma ketawa-ketawa sampe larut malam.
Saat gilirannya bercerita, suasana tiba-tiba berubah jadi serius. Dia mulai membuka cerita tentang pertengkaran hebat dengan pacarnya yang ketahuan selingkuh dengan perempuan lain. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian, mencoba memahami apa yang dia rasakan. Matanya mulai berkaca-kaca, dan tak lama kemudian, setetes air mata mengalir dari matanya yang sipit. Dia memeluk bantal di sofa, lalu menangis tersedu-sedu di baliknya.
Sebagai sesama perempuan yang pernah merasakan pengkhianatan, aku bisa merasakan luka di hatinya. Aku mendekat, memeluknya pelan, dan mengusap punggungnya untuk menenangkannya. “Sudah, jangan terlalu sedih,” kataku lembut sambil menawarkan segelas air putih. Aku berusaha menghiburnya agar dia tidak tenggelam dalam kesedihan.
Beberapa saat kemudian, tangisnya mulai reda, meski masih sesekali tersedu. Dia menoleh ke arahku, suaranya pelan. “Ci, tadi kamu bilang pernah bikin video pribadi, kan?”
Aku mengangguk, sedikit bingung. “Iya, kenapa?”
“Boleh nggak aku lihat? Hitung-hitung buat ngalihin pikiran, deh. Boleh, ya?” pintanya dengan nada setengah memaksa.
Di layar, terlihat adegan-adegan yang cukup intens dari masa laluku. Aku sendiri merasa jantungku berdegup kencang, apalagi Yola yang sesekali terkikik atau menggoda. “Hihi, malu-malu tapi mau, ya!” katanya sambil nyengir. Aku cuma nyubit lengannya kecil sebagai balasan.
Setelah video selesai, suasana jadi agak canggung. Yola tiba-tiba bilang, “Ci, aku juga pengin bikin video kayak gitu. Kayaknya seru, deh, buat ngebales mantan.”
Aku langsung kaget. “Hah? Jangan macam-macam, Yol! Nanti malah dibilang aku yang ngajarin kamu hal aneh, dosa tahu!” kataku, setengah bercanda.
Tapi Yola ngotot. “Ayolah, Ci. Aku cuma pengin ngebales dia aja. Lagipula, aku juga udah nggak polos-polos amat, kok. Katanya Napoleon aja balas dendam pas istrinya selingkuh, ini cuma buat keadilan!” katanya dengan gaya sok bijak.
Aku cuma geleng-geleng kepala. “Napoleon aja dibawa-bawa. Terus, kalau bikin, sama siapa? Cowoknya mana?”
“Dengan penjaga villa kamu aja, Ci. Masih kerja di sana, kan? Aku penasaran, pengin coba sesuatu yang beda,” katanya sambil nyengir.
Karena dia terus memaksa dan sepertinya serius, aku akhirnya setuju, meski dengan berat hati. Lagipula, aku sendiri sudah lama nggak ke villa, jadi sekalian mampir. Aku tahu Pak Jono dan Tardi, penjaga di sana, pasti senang kalau ada tamu.
Kami tidur sekitar tengah malam dan bangun jam delapan pagi. Setelah sarapan, kami packing barang dan pamit ke mama, bilang mau ke villa. Aku pakai atasan merah model halter neck yang santai, dipadukan dengan celana pendek jeans ketat. Yola pakai dress mini yang pendek di atas lutut, rambut panjangnya dijepit ke belakang dengan jepit Tare Panda yang lucu. Kami berangkat dari Jakarta sekitar jam sepuluh pagi dan sampai di villa sekitar jam satu siang, untungnya jalanan nggak terlalu macet karena bukan hari libur.
Saat hampir sampai, aku memastikan sekali lagi. “Yol, kamu yakin? Masih bisa mundur sekarang, lho. Kalau udah kejadian, aku nggak bisa bantu apa-apa lagi.”
Dia mengangguk mantap. “Aku siap, Ci. Aku juga pengin tahu rasanya.”
Sesampainya di villa, Pak Jono menyambut kami dengan senyum lebar. “Wah, Neng Cinta, lama banget nggak ke sini! Bapak kangen, nih,” katanya ramah.
“Iya, Pak, sibuk banget di Jakarta. Oh ya, ini sepupu saya, Yola,” kataku memperkenalkan. Yola tersenyum kecil sambil mengangguk ke arah Pak Jono.
Sambil Yola membawa tas ke kamar, Pak Jono mendekat dan berbisik, “Neng, Neng Yola ini boleh diajak main nggak? Gemesin banget, sih.”
Aku cuma nyengir. “Duh, Bapak, baru dateng udah mikir gitu. Tenang, dia sendiri yang minta, kok. Malah pengin direkam, tapi buat koleksi pribadi, ya, Pak.”
Pak Jono langsung sumringah, tapi aku buru-buru menahannya. “Sabar, Pak, kami lapar nih. Makan siang dulu, sekalian siapin nasi. Ini ada ayam goreng buat Bapak juga,” kataku sambil menyerahkan sekotak KFC.
“Oh ya, Tardi ada, nggak? Mau ajak dia juga,” tanyaku.
“Kurang tahu, Neng. Coba telepon dulu,” jawab Pak Jono.
Aku lalu menelepon Tardi, penjaga villa tetangga. Setelah beberapa kali dering, dia mengangkat. “Halo, siapa ini?” Aku memastikan suaranya, lalu mengajaknya ke villa dan menjelaskan rencana. Dia antusias, tapi bilang cuma bisa hari ini karena besok majikannya datang.
Setelah telepon ditutup, Yola muncul dari kamar. “Lama banget, Ci, ngapain sih? Ayo makan, lapar nih!”
“Duh, tadi ke WC bentar, perutku nggak enak,” katanya sambil cengengesan.
Benar saja, Tardi sudah berdiri di depan pintu. Begitu pintu kututup, dia langsung memelukku erat, tangannya meraba punggungku sampai ke bawah. Kami berciuman sekilas, seperti sepasang kekasih yang lama nggak ketemu. Tapi, kekasih? Nggak lah, cuma temen dekat, kok!
“Eh, jangan dulu, deh. Aku laper, mau makan dulu. Sekalian kenalin kamu sama sepupuku, yuk!” kataku sambil melepaskan pelukannya sebelum dia kelewatan dan mulai menarik celanaku.
“Hehe, kangen banget sama kamu, apalagi sekarang makin cantik sama rambut begini,” ujarnya, memuji rambutku yang kini lebih panjang sampai menyentuh bahu dan kembali kuhitamkan. Aku menyerahkan piring serta sendok garpu padanya, lalu mengajaknya ke taman. Di sana, Pak Jono dan Yola juga sedang asyik menyendok nasi dan ayam goreng ke piring mereka. Kami makan dengan santai, suasana semakin ramai dengan candaan nakal mereka. Bahkan, aku sempat tersedak karena ketawa terlalu keras. Tardi buru-buru menepuk punggungku untuk menenangkan, tapi ujung-ujungnya malah meremasi dadaku.
“Apa sih, pegang-pegang! Malah bikin tambah tersedak!” protesku sambil menepis tangannya. Yola, yang awalnya agak kaku, mulai terbiasa dengan suasana seru ini. Dia bahkan mulai berani menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh dari mereka.
“Paha yang itu, Pak, habisin aja!” canda Tardi. “Paha? Mana paha?” sahutnya pura-pura bodoh sambil tangannya meraih pahaku. Cepat-cepat kutepis tangannya, dan semua langsung tergelak. Setelah selesai makan, sekitar lima belas menit kemudian, kusuruh Pak Jono dan Tardi membereskan piring dan mencuci peralatan makan, sekalian menunggu makanan di perut turun.
“Udah nggak risih lagi, kan? Habis ini kita mulai, siap?” tanyaku pada Yola.
“Siapa takut! Lagian, aku seneng banget bisa balas dendam sama si brengsek itu. Biar dia tahu cewek juga bisa main di belakang, apalagi aku sama orang yang nggak pernah dia sangka,” jawab Yola penuh semangat.
“Lihat, mereka udah selesai. Waktunya mulai!” kataku saat melihat Pak Jono dan Tardi keluar dari dapur.
“Pak Jono, tolong ambil handycam di meja dalam!” Pak Jono masuk lagi dan kembali dengan handycam. Kami duduk melingkar di atas tikar, dan aku mulai memberi instruksi layaknya sutradara. Kuperjelas ke mereka berdua untuk tidak menyentuhku selama aku merekam, supaya hasilnya bagus dan tidak goyang seperti rekaman amatir.
Setelah semua siap, mereka berdua mendekat ke Yola. Aku perhatikan Yola agak tegang.
“Santai aja, nanti juga seru kok,” ujarku menenangkan. Aku menyalakan kamera, dan tanpa perlu disuruh, mereka sudah mulai beraksi. Pak Jono meletakkan tangannya di paha Yola yang sedang duduk bersimpuh, meraba perlahan sambil sedikit menyingkap roknya. Di sisi lain, Tardi meremas dadanya, sepertinya agak keras karena Yola meringis sambil mendesah panjang. Lidah Tardi menelusuri leher Yola, naik ke telinga, lalu menyapu wajah mulusnya.
Tardi memagut bibir mungil Yola dengan penuh gairah, mereka berciuman panas, lidah mereka saling menari dan beradu. Sambil terus mencium, Tardi menurunkan resleting di punggung Yola, lalu perlahan menarik bajunya dari bahu. Ia memberi isyarat pada Pak Jono untuk melakukan hal yang sama di sisi kiri. Tak lama, mereka juga melepas bra Yola, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah.
Tardi masih asyik mencium Yola, lidahnya menjelajahi setiap sudut mulutnya. Yola pun tak kalah liar, membalas dengan penuh semangat. Jempol Tardi menggesek puting Yola, kadang mencubit dan memelintirnya perlahan. Di sisi lain, Yola semakin bersemangat menggerakkan tangannya pada Pak Jono, sampai akhirnya pria itu memintanya berhenti agar tidak terlalu cepat selesai.
Pak Jono lalu meminta Yola merunduk, posisinya kini setengah berbaring ke samping, dan mulai melayaninya dengan mulut. Dengan penuh antusias, Yola menjilati bagian sensitifnya, dari bawah hingga ke atas, dengan gerakan yang terampil. Ia sengaja menggoda ujungnya dengan lidah sebelum mengulumnya sebentar. Pak Jono sampai mengerang keenakan, tangannya tak henti meremasi payudara Yola yang bergoyang.
Sementara itu, Tardi menarik rok Yola hingga lepas, diikuti celana dalamnya. Setelah Yola telanjang, Tardi juga melepaskan bajunya sendiri. Jarinya mulai menjelajahi area intim Yola, membuatnya semakin basah. Cairan yang keluar membasahi jarinya, dan Yola mendesah di sela-sela aksinya, “Engh… uh… uhh!”
Lalu, Pak Jono berbaring di tikar dan meminta Yola naik ke wajahnya, sepertinya ingin menjelajahi area intimnya dengan lidah. Sekarang giliran Tardi yang mendapat perhatian. Penisnya, yang lebih besar dan berurat, digerakkan oleh tangan Yola sambil ia terus melayani Pak Jono. Yola dengan lihai menggunakan lidahnya, membuat Tardi njem patut untuk Yola, yang sedang sibuk, membuat Tardi mengerang nikmat. “Ayo, Neng, masukin dong, jangan cuma gitu doang!” kata Tardi sambil mendorong dirinya lebih dalam ke mulut Yola. Yola terkejut, matanya membelalak karena sesak, mencoba melepaskan diri, tapi tangan kuat Tardi menahan kepalanya dengan erat.
“Tar, udah dong, kasihan! Nanti dia sesak napas, tahu nggak punyamu gede!” bujukku, berharap Tardi memberi Yola sedikit ruang untuk bernapas. “Eh, Neng Yola kelihatan enjoy kok, lihat nih!” sahut Tardi sambil menunjuk Yola, yang kini justru menggerakkan kepalanya maju-mundur dengan semangat, meski tangan Tardi masih memegang kepalanya erat, tak membiarkannya lepas.
Ekspresi nikmat Yola terlihat dari gerakan pinggulnya yang meliuk-liuk. Lidah Pak Jono semakin dalam, dua jarinya membuka area sensitifnya, lalu ia menjelajahi lebih intens. Area itu kini basah, campuran cairan alami Yola dan ludah Pak Jono. Meski aku sendiri mulai terbawa suasana, tanganku sesekali meremas dadaku dan merasakan kelembapan di area intimku, aku tetap fokus merekam.
“Emm… emm… ahh!” desah Yola dengan mata setengah terpejam, tangannya meremasi rambut Pak Jono di bawahnya. Cairan bening mengalir, membasahi area intimnya dan wajah Pak Jono. Ia terus mendekat, menghabiskan waktu sekitar lima menit untuk menjelajahi dengan penuh semangat. Tubuh Yola bergoyang hebat, dan ia semakin antusias melayani Tardi dengan mulutnya.
Setelah puas, Pak Jono mengeluarkan kepalanya dari bawah Yola. Ia duduk, lalu mengangkat Yola ke pangkuannya. Satu tangannya membuka area intim Yola lebar-lebar, sementara tangan lainnya mengarahkan dirinya untuk masuk. Tardi cukup pengertian, membiarkan Yola melepaskan dirinya sejenak untuk menyesuaikan posisi. Yola perlahan menurunkan tubuhnya, membiarkan Pak Jono masuk, diiringi erangan panjang dari keduanya. Pak Jono juga melenguh, merasakan kepadatan yang nikmat.
👉 Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND

Social Plugin