Diambang Kehancuran “Jess?” Wanita bergaun putih mutiara itu berbalik sesaat setelah namanya disebut. Ternyata Airlangga, suaminya yang memanggil. Lelaki itu hampir siap dengan kemeja putihnya. Terkesan santai tapi tetap menawan seperti biasa.
“Kenapa?” Jessica mengalihkan arah pandangnya kembali ke cermin. Telinga kirinya belum terpasang anting. “Anak-anak udah siap belum?”
Langga berdecak seraya mendekati sang istri. “Sayang, kok pake baju gini, sih? Bahu kamu keliatan loh.”
Jessica memutar matanya malas. “Aku mau tampil cantik hari ini, Langga. It’s my birthday.”
Wanita 28 tahun itu sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk pesta ulang tahunnya ini. Dia sampai menyewa resort di Bali hanya untuk berkumpul bersama teman-temannya. Beberapa waktu kebelakang, Jessica tidak bisa menikmati hidupnya karena masih berkabung akibat kehilangan satu-satunya keluarganya yaitu sang ayah.
“Tapi-” Ucapan Langga terhenti setelah dering ponselnya berbunyi. “Papa telepon. Wait, ya.”
Setelah merasa penampilannya sudah elok, Jessica mendekat pada sang suami. Samar-samar dia mendengar suara dari Liem Hianggio. Ayah mertuanya itu tidak bisa hadir ke pesta ulang tahunnya karena sibuk kampanye untuk posisi walikota di daerah tempat tinggal mereka.
“Kan janjinya hari Sabtu aku baru pulang, Pa.” Langga berdecak kesal. Dia meraih pinggang Jessica untuk didekap. Namun, wanita itu malah sibuk merapikan rambutnya. “Ya, ya, oke. Aku pulang hari Kamis. Tapi Sean sama Jenny kayaknya masih betah di sini.”
“Kenapa?” bisik Jessica mendengar nama anak-anaknya disebut.
“Oke, nanti aku kabarin lagi,” pamit lelaki 28 tahun itu sebelum mematikan ponselnya. “Papa minta aku pulang cepet. Katanya mau ketemu Pak Rosadi, petinggi partai gitu lah.”
Tangan Jessica yang tengah merapikan rambut Langga terhenti. Situasi seperti ini bukan sekali dua kali, Jessica sering merasa dirinya bukan prioritas Langga selama masih ada ayah mertuanya.
“Mau gimana lagi, biar aku sama anak-anak pulang sendiri hari Sabtu deh, ya. Aku udah janji sama Abang buat main ke Uluwatu.”
“Maaf, Sayang. Ini ulang tahun kamu, tapi aku-”
“Nggak papa,” sela Jessica. “Ngerayain bareng kamu aja aku udah seneng.”
Masih merasa tidak enak, Langga mengusap wajah istrinya yang cantik rupawan itu. Langga sangat beruntung memiliki istri sempurna macam Jessica. “I love you. I love you. I love you.”
Jessica tertawa seraya berusaha menghindar dari kecupan Langga di seluruh wajahnya. “Stop, Langga. Ayo, nanti kita terlambat, ih.”
Mereka sama-sama keluar dari kamar untuk menuju halaman belakang resort. Di sana sudah ramai teman-teman Langga serta Jessica. Mereka masih menikmati kudapan manis yang telah tuan rumah siapkan.
“Mama!” seru putra tertua Jessica. “Adek tadi mau jatuh, tapi nggak jadi. Soalnya ditolong Abang.”
Semakin hari, Sean semakin pandai bicara. Jessica senang karena Sean yang baru berusia 5 tahun itu bisa menjaga dan melindungi Jenny yang masih batita. Walaupun terkadang kedua anak itu gemar berselisih atau bertengkar.
“Wah, Abang pinter banget. Hebat, udah bisa jaga Adek.” Sean menyambut Jessica dalam pelukan erat. Selanjutnya, pria kecil itu sudah berada di gendongan sang ibu. “Ayo, ikut potong kue sama Mama, ya.”
Sean mengangguk antusias. Demikian juga Langga yang tertawa gemas melihat putra kebanggaannya. Langga menuntun anak dan istrinya hingga disambut beberapa pasang mata yang menatap Jessica penuh rasa iri.
“Terima kasih buat yang udah dateng jauh-jauh dan doain Jessica. Semoga kalian enjoy selama acara. Selamat bersenang-senang!” ujar Langga dengan senyum lebar.
“Kelamaan! Potong tuh kuenya, Jess,” teriak salah satu teman kuliah Jessica yang turut hadir. Berhasil mengundang tawa dari beberapa orang yang lain.
Jessica ikut mengumbar tawa. Sambil menggendong Sean, dia meniup lilin bergambar angka 28 itu dengan riang. Sementara Langga yang juga menggendong anak bungsunya itu merasa bahagia melihat senyum istrinya.
“Happy birthday, My Love!” Langga berbisik.
“Happy birthday, Mama!” Diikuti Sean yang meniru kalimat sang ayah.
Jessica rasa dia tidak pernah sebahagia ini. Dikelilingi orang-orang yang dia cintai serta anak dan suaminya yang begitu menyayanginya membuat Jessica merasa campur aduk. Bahagia namun juga haru.
Dia merasa hidupnya telah lengkap. Kini Langga adalah dunianya sekaligus satu-satunya keluarga yang dia punya. Setelah mewarisi bisnis supermall dari mendiang ayahnya, Jessica sering mendapat tatapan iri dari orang-orang. Mereka merasa hidup Jessica begitu mudah. Suami tampan, anak yang baik, dan wanita karir yang sukses.
Sesungguhnya Jessica merasa sedikit terbebani dengan itu. Tetapi dia memilih untuk fokus pada keluarga dan bisnisnya. Dia percaya Langga akan selalu mendukungnya hingga maut yang memisahkan mereka. Karena Jessica sangat mencintai pria favoritnya itu.
Karena Jessica sangat mencintai pria favoritnya itu
Ternyata perfection is an illusion. Tidak ada yang benar-benar sempurna di dunia ini. Termasuk pernikahan Jessica dan Langga.

Social Plugin